PADANG - Berkembangnya bordir, sulaman dan tenunan di Sumatera Barat ke arah yang ekonomis tak terlepas dari peran seorang Jonni Afrizon, SE, MM, putra Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung yang kini menjabat sebagai Kepala Balai Diklat Industri (BDI) Padang. Lelaki ramah dan murah senyum ini, sejak tahun 2013 lalu, berusaha menjadikan sulaman, bordir dan tenunan yang ada di Sumbar sebagai fokus pembinaan yang dilakukan BDI.

"Pembinaan itu dilakukan dengan jalan melakukan Pendidikan dan Latihan bagi generasi muda yang berminat menggeluti dunia bordir, sulaman dan tenunan. Pelatihan dilakukan dalam pola 3in1, yakni, pelatihan, sertifikasi dan penempatan kerja," kata Jonni dalam wawancara di kantornya, di Padang, Senin (8/5/2017).

Dan sejak 2013 disusunlah program pendidikan dan pelatihan (Diklat) yang berfokus pada dunia fasyen dalam bentuk pengembangan bordir, sulaman dan tenunan khas daerah. Tahun 2015 program ini disetujui dan mulai di ujicoba. Dan sejak tahun 2016 hingga saat ini, ribuan tenaga trampil bordir, sulaman dan tenunan sudah di didik di BDI Padang, lembaga yang berada dibawah naungan Pusdiklat Industri Kementrian Perindustrian RI ini.

Tahun 2017 ini, sebut Jonni, pihaknya ditargetkan melatih tenaga trampil sebanyak 1500 orang dalam bidang bordir, sulaman dan tenunan. Tak hanya di Sumbar, pelatihan juga dilakukan terhadap generasi muda di Provinsi Jambi. Bulan April 2017 lalu, sekitar 60 pelaku UMKM bordir, sulaman dan tenunan dilatih berasal dari Kabupaten Kerinci, Jambi.

Master managemen lulusan Universitas Negeri Padang ini, mengatakan, hingga bulan Mei 2017 ini saja, BDI Padang sudah melatih pelaku UMKM bordir, sulaman dan tenunan hampir 1200 orang. Ia berharap, mereka para pengrajin yang dilatih bisa meningkatkan kapasitas diri, sehinga dua atau tiga tahun mendatang bisa pula membuka usaha sendiri dengan membentuk kelompok usaha bersama (KUBE) dengan pembinaan atau bapak angkat pengusaha bordir, sulaman dan tenunan yang ada di daerah bersama pemerintah daerah.

"Kita juga minta perhatian pemerintah kabupaten/kota yang ada melalui Dinas Perindustriannya melakukan pembinaan dan membuat sentra ekonomi pada KUBE yang dibuat para pengrajin," harapnya. Sehingga, keberlangsungan usaha yang dirintis anggota KUBE bisa berjalan dengan baik dan kontiniu yang pada akhirnya bisa menjadi penopang utama perekonomian keluarga hingga anak cucu mereka.

Jonni mencontohkan Sentra Tenun Unggan di Kabupate Sijunjung. Bahkan ketika Kapusdiklat Industri Kementerian Perindustrian, Mujiyono melakukan kunjungan kerjanya ke Sentra Tenun Unggan pertengahan April lalu, Sentra Tenun Unggan harus terus dijalankan dan dijadikan sebagai pilot project pengembangan bordir, sulaman dan tenunan. Sentra Tenun Unggan ini diresmikan oleh Direktur Pengembangan Perwilayahan Industri II Kementerian Perindustrian RI Busharmaidi pada tanggal 9 Maret 2017 lalu. Sentra ini memiliki luas tanah sebesar 5.000 meter persegi dengan luas bangunan 15 x 30 meter persegi yang memiliki alat tenun sebanyak 20 unit dan tentunya mampu menampung tenaga kerja sebanyak 20 orang.

Sumber: LiterasiNews.com